
FROM OUR BLOG
Latih Verifikator Kenali Bias Kognitif, IGRS Perkuat Keputusan Klasifikasi dan Keamanan Siber
Jun 26, 2026

Direktorat Pengembangan Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital menyelenggarakan Orientasi dan Pelatihan Imersif Indonesia Game Rating System (IGRS) di Hotel Aryaduta Bandung pada 24 dan 25 Juni 2026. Salah satu sesi kunci pada hari pertama menghadirkan Dr. Sofian Lusa CEO Osnova Cyber Innovation, yang mengupas ancaman bias kognitif dalam pengambilan keputusan klasifikasi gim sekaligus menyoroti pentingnya keamanan siber bagi kredibilitas dan keberlanjutan sistem. Kegiatan ini menjadi gelombang pertama dari program pengembangan kompetensi tim verifikator menjelang implementasi reformasi IGRS.
Dukungan Penuh dari Pimpinan Direktorat
Rangkaian kegiatan dibuka dengan sambutan Direktur Pengembangan Ekosistem Digital, Dr. Sonny Hendra Sudaryana, yang menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan pelatihan. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa keberhasilan sistem klasifikasi gim tidak hanya ditentukan oleh kematangan teknologi dan regulasi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia yang menjalankannya. Pelatihan ini disebutnya sebagai prasyarat, bukan pelengkap, bagi reformasi IGRS yang tengah berjalan.
Dr. Sonny berharap seluruh peserta memosisikan diri sebagai pelaksana reformasi yang akan menjalankan sistem baru, bukan sekadar penerima materi. Beliau juga menaruh harapan agar kompetensi yang dibangun melalui pelatihan mampu mengantarkan Indonesia menjadi rujukan tata kelola klasifikasi gim di kancah global, seiring posisi Indonesia sebagai salah satu pasar gim terbesar dunia dengan sekitar 155 juta pemain aktif.
“Verifikator adalah penjaga kepercayaan publik. Ketelitian dan integritas mereka menentukan mutu setiap keputusan klasifikasi yang kita hasilkan.”
Dr. Sonny, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital
Bias Kognitif, Ancaman Tersembunyi bagi Akurasi Klasifikasi
Pada sesinya, Dr. Sofian Lusa mengkaji tantangan penerapan IGRS melalui kerangka enam dimensi yang dikenal sebagai 6C, yakni Compliance, Content, Collaboration, Commerce, Competency, dan Catalyst. Dari kerangka tersebut, ia memberikan penekanan khusus pada faktor manusia dalam pengambilan keputusan. Mengacu pada pemikiran Daniel Kahneman, Dr. Sofian mengingatkan bahwa manusia tidak merekam realitas secara objektif karena otak cenderung menyusun ulang, menebak, dan mengisi celah informasi untuk menghemat energi kognitif.
Ia mengidentifikasi delapan jenis bias yang mengancam mutu klasifikasi, mulai dari anchoring yang membuat verifikator terpaku pada rating asing, automation bias berupa kepercayaan berlebihan atau penolakan terhadap keluaran AI, hingga cultural framing ketika standar global gagal menangkap norma dan nilai budaya Indonesia. Menurut Dr. Sofian, kesadaran atas bias saja tidak cukup. Diperlukan kebiasaan dan sistem kerja yang terstruktur, antara lain melalui pencarian bukti yang menyangkal dugaan awal, pelaksanaan pre-mortem, penunjukan devil's advocate secara bergilir, serta pencatatan alasan keputusan dalam decision journal.
Keamanan Siber sebagai Pilar Kepercayaan
Selain aspek pengambilan keputusan, Dr. Sofian menggarisbawahi dimensi Cyber-security sebagai salah satu tantangan paling mendesak dalam ekosistem IGRS. Ia merujuk pada temuan audit yang mengungkap dua celah keamanan pada portal igrs.id, yaitu berkas bukti dukung yang dapat diakses publik tanpa autentikasi dan data sensitif penerbit yang terekspos melalui kode HTML halaman portal. Kedua celah tersebut berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, mengingat data yang dikelola mencakup identitas penerbit hingga detail gim yang belum dirilis dan tergolong rahasia dagang.
Dr. Sofian menekankan bahwa keamanan siber bukan sekadar urusan teknis tim teknologi informasi, melainkan fondasi kepercayaan yang menopang seluruh sistem klasifikasi. Ia mendorong penerapan langkah pengamanan menyeluruh, mulai dari penyimpanan terenkripsi, autentikasi multi-faktor, sanitasi keluaran HTML, hingga pengujian penetrasi berkala. Tanpa keamanan data yang kukuh, menurutnya, kredibilitas keputusan klasifikasi yang paling akurat sekalipun akan mudah runtuh.
Peserta dan Penyelenggaraan
Pelatihan diikuti oleh 30 peserta yang terdiri atas tim verifikator, game tester, dan tim pendukung IGRS. Kegiatan berlangsung selama dua hari, yaitu pada 24 dan 25 Juni 2026, bertempat di Hotel Aryaduta Bandung, Jawa Barat. Hari pertama diisi dengan tujuh sesi substantif yang seluruhnya diturunkan dari temuan audit, sementara hari kedua difokuskan pada pembinaan tim melalui aktivitas luar ruangan untuk memperkuat kolaborasi, komunikasi, dan kepercayaan lintas peran.
Sesi Dr. Sofian Lusa menegaskan satu pesan utama, bahwa mutu klasifikasi gim ditentukan oleh perpaduan antara kejernihan berpikir dan keandalan sistem yang melindunginya. Kesadaran atas bias kognitif dan komitmen terhadap keamanan siber menjadi dua sisi dari fondasi yang sama, yaitu keputusan klasifikasi yang objektif, akuntabel, dan terpercaya. Melalui pembekalan ini, tim verifikator IGRS diharapkan siap mengemban tanggung jawabnya sebagai penjaga ruang digital yang aman bagi seluruh pemain, khususnya anak yang menjadi mayoritas pengguna gim di Indonesia. Direktorat Pengembangan Ekosistem Digital menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program pengembangan kompetensi ini secara berkelanjutan pada gelombang berikutnya.
More Update




